Pelajaran Hari Ini
Setiap hari Selasa, kalau lagi nunggu subway di midousuji line Umeda, ada seorang cewek yang selalu menarik perhatian saya di sana. Bukan, bukan karena saya "suka" dia! alasan kenapa dia menarik perhatian saya adalah karena dia buta dan selalu ditemani sama eki kakari-in. Dan kebetulan, sama seperti saya, dia juga selalu menaiki gerbong joseisenyousha (for women only). Plus, satu lagi, dia orang nya sangat amat "cerewet", in a good way...maksudku, sambil nunggu kereta dateng ga putus-putusnya dia ngajak ngobrol si mas eki kakariin dengan nada yang begitu ceria dan narenareshi. Selalu begitu, setiap selasa!
Nah hari ini, aku ketemu lagi sama dia. Pas kereta datang, saya langsung sigap meloncat masuk dan mengamankan tempat duduk di pojok. Si mbak buta itu masuk ke dalam dituntun sama mas kakariin, lalu berdiri pas didepanku. Secara kursi sebelah saya kosong, saya langsung bergeser dan mempersilahkan dia duduk di sebelah saya.
MB: ii desuka?
Aku: hai, douzo!
MB: sumimasen! (sambil tersenyum)
Lalu dia duduk, saya sudah bersiap-siap menikmati perjalanan 13 menit menuju ke sekolah dalam hening, seperti biasa. eh, tahu-tahu, si mbak buta itu mulai ngajakin ngobrol.
Seperti biasa, walaupun sebenernya males banget ngobrol sama orang asing (dan sama smua orang, in general), kalau mulai ditanyain sesuatu, saya ga sampai hati untuk nyuekkin. Akhirnya, ya mulailah percakapan ngalor ngidul singkat kami. Sebenernya sih, daripada "percakapan", lebih cocok dibilang monolog, secara kebanyakan si mbak yang ternyata mau pergi ke tempat kerjanya di Senri Chuo itu yang ngomong dan saya cukup memberi respon secukupnya aja. Si mbak itu cerita macam-macam, tapi yang paling menarik buat saya adalah ceritanya tentang liburannya ke Guam bersama suaminya.
Dia bilang itu liburan pertamanya ke luar negeri, dan dia sebenarnya pengen banget pergi liburan lagi, tapi sayangnya tur yang memungkinkan orang cacat seperti dia dan suaminya untuk bepartisipasi masih terbatas sekali. Kalaupun ada, jadinya muahal tenan dibanding tur biasa. Dia juga bilang kalau di Guam, walau sempat takut, dia main air di laut sama suaminya. Katanya, "Suami saya matanya juga cacat tapi masih bisa melihat sedikit. Waktu itu dia bilang ke saya kalau laut dan langit terlihat indaaah sekali!" Dia bercerita dengan muka berseri-seri dan membuat saya terenyuh! Buat saya yang matanya normal, bisa lihat langit sepertinya hal yang biasa saja. Seindah-indahnya langit terlihat, sepertinya ga mungkin saya bisa cerita tentang pengalaman saya melihat langit dengan muka seberseri-seri mbak yang cuma bisa "melihat" langit dari deskripsi suaminya itu.
Saya jadi teringat sama kelas barrier free yang saya benci habis-habisan. Waktu diajarin tentang konsep barrier free tourism, saya terus terang menganggapnya dou demo ii. So what gitu lho, ga ada hubungannya sama saya! Tapi mendengar penuturan si mbak buta yang begitu ramah, ceria, dan sepertinya ga menganggap cacatnya sebagai sesuatu yang harus menghalangi dia untuk hidup normal dan menikmati perjalanan wisata seperti orang lain , saya jadi merasa tidak enak hati. Apalagi bagian di mana dia menyayangkan masih minimnya tur yang mengakomodasi kebutuhan penyandang cacat. Sebagai siswa sekolah pariwisata yang menerima pelajaran barrier free, duh, saya merasa tertohok... buanget.
Sepertinya saya lagi ditegur untuk lebih peduli sama orang-orang sekitar saya, ya. Saya sering dibilang "mukanshin sugiru", "tsukiai ga warui" dan hal-hal sejenis sama teman-teman saya, yang menegaskan rendahnya kemampuan dan kepekaan sosial saya. Time to change, mungkin.Kayaknya ga bisa saya terus-terusan berpikir, "Ga ada hubungannya sama aku, so what gitu lho!"
Khusus untuk kasus barrier free, sepertinya doushitemo memang susah bagi saya untuk menyukai pelajaran itu. Bahkan kalaupun hati saya tergugah untuk memperjuangkan kehidupan normal bagi para penyandang cacat, itu pelajaran jitai ga akan pernah bisa masuk daftar favorit saya. tapi seenggaknya saya pengen mulai mencari-cari info tentang konsep barrier free dan universal design.
Saya mau mulai mencoba buat peduli.
^^

Comments