« June 2008 | Main

Cukup Sekali-kali Saja

Ceritanya hari ini ultahnya si M dari negara K (haha, bahasa kode, sumimasen^^;;), dan waktu diajak pergi minum buat merayakan ultah kawanku itu bareng W dari negara C, M dari negara J, dan H dari negara K, jelasnya aku ga bisa nolak. So pergilah kami pulang sekolah tadi.
Awalnya sempet terpikir mau makan buffet di Hotel New Hankyu. Pas akhirnya diputuskan untuk ga jadi makan di sana, aku luar biasa lega, secara sebelumnya udah sempet ketar-ketir waktu denger dari Echa kalo dinner di sana bisa abis sekitar 5rb yen@_@.
Akhirnya, kami jalan ke arah Higashi Doori, mecari resto Yakiniku (karena aku emang udah lama banget ngidam makan daging!). Di tengah jalan, kami ketemu mas-mas yang promosi restorannya (itu lhooo, yang biasa bagi2 pamflet di tengah jalan sambil bilang "Yakiniku dou desuka?") dan si H langsung berinisiatif nanya-nanya sama si mas itu.
Termakan sama hasutan si mas yang pinter banget promosi itu (sumpah dia bakat jadi sales atau tukang obat ^^;;), kami memutuskan untuk makan di resto yakiniku itu. Jadilah si mas mengantar kami ke sana.
Sampai di sana, kesan pertama adalah, "Takasou!". Model restorannya washiki gitu, tradisional Jepang, ada nakaniwa segala. Sesuai janji si mas, kami dikasih ruangan koshitsu (private room) yang menghadap taman itu dan diberi harga khusus untuk nomihoudai (minum sepuasnya) dari 1600 yen jadi 1000 yen. Sampe sana, semua OK, aku puas banget sama resto itu. Yang jadi masalah adalah ketika aku mulai melihat harga yakiniku yang terpampang di menu. Ciiiih, yappari ini resto mahal!
Akhirnya, kami memutuskan untuk mesen 2 set yakiniku aja, yang ternyata dagingnya ga seberapa banyak. jadinya tadi perut kami lebih banyak diisi minuman daripada makanan. Huaaa, padahal aku udah sampe bela2in ga makan siang karena mikir bakal pergi tabehoudaiT___T
Tapi ya udahlah, toh tanoshikatta dan oishikatta! emang harganya yang mahal sesuai sama kualitas dagingnya. Rupanya si mas ga sekedar ngecap doang waktu bilang restonya itu kualitas dan rasa dagingnya terjamin TOP. di genkan mereka juga terpampang foto2+ tandatangan+ komen dari selebritis2 top jepang yang --katanya sih-- jadi pelanggan di sana.
Sayangnya, di sana berlaku pembatasan waktu. Kita cuma dikasih waktu 2 jam, dan tentu saja dalam 2 jam itu kita berusaha sekuat tenaga untuk ga rugi karena udah bayar 1000 yen untuk nomihoudai. Iya, itulah jeleknya yang houdai2an, biasanya ujung2nya kita bakalan muri suru, maksa walaupun sebenernya udah ga sanggup. Untung ga ada yang sampe teler dan muntah2 tadi. Malah si H berhasil mencapai targetnya minum 15 gelas ebisu hokkaido beer dalam 2 jam itu@_@ Sasuga oang negara K, kayaknya yang namanya minum itu udah mendarah daging.
Setelah 2 jam di sana, tibalah saat yang paling mendebarkan dan menyakitkan hati: bayar bill! HIks2, yappari habis lebih dari 3000yen, padahal makan daging cuma secuil2.
Ah, ya sudahlah, Sekali-skali. Lagian ini ultah teman (yang sayangnya dari negara yang tidak punya kebiasaan mentraktir waktu ultah^^;;).
Nomikai berikutnya?
Semoga ga ada dalam waktu dekat ini!

                            

Pelajaran Hari Ini

Setiap hari Selasa, kalau lagi nunggu subway di midousuji line Umeda, ada seorang cewek yang selalu menarik perhatian saya di sana. Bukan, bukan karena saya "suka" dia!  alasan kenapa dia menarik perhatian saya adalah karena dia buta dan selalu ditemani sama eki kakari-in. Dan kebetulan, sama seperti saya, dia juga selalu menaiki gerbong joseisenyousha (for women only). Plus, satu lagi, dia orang nya sangat amat "cerewet", in a good way...maksudku, sambil nunggu kereta dateng ga putus-putusnya dia ngajak ngobrol si mas eki kakariin dengan nada yang begitu ceria dan narenareshi. Selalu begitu, setiap selasa!
Nah hari ini, aku ketemu lagi sama dia. Pas kereta datang, saya langsung sigap meloncat masuk dan mengamankan tempat duduk di pojok. Si mbak buta itu masuk ke dalam dituntun sama mas  kakariin, lalu berdiri pas didepanku. Secara kursi sebelah saya kosong, saya langsung bergeser dan mempersilahkan dia duduk di sebelah saya.
MB: ii desuka?
Aku: hai, douzo!
MB: sumimasen! (sambil tersenyum)
Lalu dia duduk, saya sudah bersiap-siap menikmati perjalanan 13 menit menuju ke sekolah dalam hening, seperti biasa. eh, tahu-tahu, si mbak buta itu mulai ngajakin ngobrol.
Seperti biasa, walaupun sebenernya males banget ngobrol sama orang asing (dan sama smua orang, in general), kalau mulai ditanyain sesuatu, saya ga sampai hati untuk nyuekkin. Akhirnya, ya mulailah percakapan ngalor ngidul singkat kami. Sebenernya sih, daripada "percakapan", lebih cocok dibilang monolog, secara kebanyakan si mbak yang ternyata mau pergi ke tempat kerjanya di Senri Chuo itu  yang ngomong dan saya cukup memberi respon secukupnya aja. Si mbak itu cerita macam-macam, tapi yang paling menarik buat saya adalah ceritanya tentang liburannya ke Guam bersama suaminya.
Dia bilang itu liburan pertamanya ke luar negeri, dan dia sebenarnya pengen banget pergi liburan lagi, tapi sayangnya tur yang memungkinkan orang cacat seperti dia dan suaminya untuk bepartisipasi masih terbatas sekali. Kalaupun ada, jadinya muahal tenan dibanding tur biasa. Dia juga bilang kalau di Guam, walau sempat takut,  dia main air di laut sama suaminya. Katanya, "Suami saya matanya juga cacat tapi masih bisa melihat sedikit. Waktu itu dia bilang ke saya kalau laut dan langit terlihat indaaah sekali!" Dia bercerita dengan muka berseri-seri dan membuat saya terenyuh! Buat saya yang matanya normal, bisa lihat langit sepertinya hal yang biasa saja. Seindah-indahnya langit terlihat, sepertinya ga mungkin saya bisa cerita tentang pengalaman saya melihat langit dengan muka seberseri-seri mbak yang cuma bisa "melihat" langit dari deskripsi suaminya itu.
Saya jadi teringat sama kelas barrier free yang  saya benci habis-habisan. Waktu diajarin tentang konsep barrier free tourism, saya terus terang menganggapnya dou demo ii. So what gitu lho, ga ada hubungannya sama saya! Tapi mendengar penuturan si mbak buta yang begitu ramah, ceria, dan sepertinya ga menganggap cacatnya sebagai sesuatu yang harus menghalangi dia untuk hidup normal dan menikmati perjalanan wisata seperti orang lain , saya jadi merasa tidak enak hati. Apalagi bagian di mana dia menyayangkan masih minimnya tur yang mengakomodasi kebutuhan penyandang cacat. Sebagai siswa sekolah pariwisata yang menerima pelajaran barrier free, duh, saya merasa tertohok... buanget.
Sepertinya saya lagi ditegur untuk lebih peduli sama orang-orang sekitar saya, ya. Saya sering dibilang "mukanshin sugiru", "tsukiai ga warui" dan hal-hal sejenis sama teman-teman saya, yang menegaskan rendahnya kemampuan dan kepekaan sosial saya. Time to change, mungkin.Kayaknya ga bisa saya terus-terusan berpikir, "Ga ada hubungannya sama aku, so what gitu lho!"
Khusus untuk kasus barrier free, sepertinya doushitemo memang  susah bagi saya untuk menyukai pelajaran itu. Bahkan kalaupun hati saya tergugah untuk memperjuangkan kehidupan normal bagi para penyandang cacat, itu pelajaran jitai ga akan pernah bisa masuk daftar favorit saya. tapi seenggaknya saya pengen mulai mencari-cari info tentang konsep barrier free dan universal design.
Saya mau mulai mencoba buat peduli.

^^