« Change! | Main | Kawan Lamaku Kembali »

Merencanakan Pernikahan

Tenang! Bukan pernikahan saya kok. Saya masih Ayu yang dulu, yang tak goyah walau diejek dan didera segala kritikan atas pandangannya mengenai pernikahan.
:P
Yang sedang saya rencanakan adalah sebuah pernikahan FIKTIF. Dan percaya deh, ini bukan saya lakukan berdasarkan iseng-iseng atau main-main belaka. Saya perlu melakukan ini demi mendapat nilai untuk subjek "海外ウエディング研究”. Nilai, dan hanya nilai!
Kalau tidak salah, sebelumnya saya pernah cerita tentang nilai F yang sudah hampir pasti akan saya dapatkan. Nah untungnya, nilai F itu bisa saya hindari, tapi dengan konsekuensi saya harus mengikuti subjek kaigai wedding itu walaupun sebenarnya sama sekali tidak berminat. Nah, lebih menyenangkannya lagi, masuk-masuk saya langsung disuruh menyusun report tentang overseas wedding, yang mengharuskan saya melakukan product research terhadap paket pernikahan di Bali dan Hawaii.
Dan bagian yang paling menggembirakan dari semua ini adalah, nilai kami  untuk subjek ini 100% tergantung pada report itu.
Great!
Karena itu sekarang saya sedang pusing, dikelilingi brosur-brosur paket pernikahan Bali dan Hawai dari berbagai travel agents. Mau mengambil tema apa? Mau membandingkan apa?
Kalau mau jujur, dari awal mindset saya sudah ga sejalan sama inti mata pelajaran ini. Saya  ga mengerti kenapa orang repot-repot merencanakan pernikahan di luar negeri? Sudah mahal (di Hawaii kira-kira 500 ribu yen untuk paket 6 hari, itu tentunya masih plus-plus dan tidak termasuk wedding party ), teman dan keluarga yang bisa datang kan pasti jadi terbatas! And this whole getting married in Chapels and Churches thingy...masih belum bisa masuk ke akal sehat saya. Jauh-jauh pergi ke Bali, memilih Chapel keren di pinggir pantai, menikah di hadapan "pendeta" (pakaiannya sih pendeta, i'm not sure tho..), semua cuma demi "fashion". Dan masih banyak lagi deh gimonten saya yang lain.
Sensei saya sendiri mengakui, sepertinya  yang menjual "wedding" sebagai bagian dari paket wisata itu cuma Jepang. Dan, masih menurutnya, bangsa yang secara keseluruhan merasa begitu wajar menikah di rumah ibadah (mmm, kalau chapel sih sepertinya sekarang memang banyak yang fungsinya buat menikah thok.) sebuah agama dengan segala prosesi religius agama tersebut tanpa perlu menjadi pemeluk agama itu, sepertinya juga cuma Jepang.
Dengan sejuta gimonten yang ada di kepala saya, saya ga tahu harus mulai menyusun report saya dari mana. Semakin saya baca brosur-brosur itu, semakin malas saya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Oh ya, kalau ada yang bertanya-tanya kenapa saya tiba-tiba menyebut diri saya sendiri menggunakan kata ganti "saya", jawaban saya adalah, "Suka-suka saya dong!"
Hehehe...

                            

Comments

y ampun yu, gw kira lo mau nikah hehehe
iya ya cuma jepang yg bisa (seperti tulisan kamu di atas)
btw, "Saya masih Ayu yang dulu, yang tak goyah walau diejek dan didera segala kritikan atas pandangannya mengenai pernikahan." maksudnya apa?
emg gmn pandangan lo ttg pernikahan??

hehehe, masaka....
yang bagian itu, kalo dibahas ntar jadi panjang. intinya sih "i'm not interested in marriage"
^^;;

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .